Belajar Hidup

..komunikasi satu arah??

Wednesday, May 24, 2006

Mati Lampu (I)

Kemarin siang listrik mati seharian, sejak jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Dan berhubung saya sedang betah-betahnya di rumah sebelum berangkat ke KP ke Jakarta minggu depan –ma’lum biasanya jarang di rumah-, efek mati listrik (english; blackout) jadi terasa sangat signifikan.


Seperti umumnya rumah-rumah di perkotaan, listrik sudah menjadi ‘bahan bakar’ jalannya kegiatan rumah tangga. Mati listrik di rumah saya akan berarti tidak ada deru pompa air, tidak ada hingar bingar TV atau tape, tidak ada charger Hpyang berebutan mengisi steker listrik dan tentu saja tidak ada klotak-klotek klak-klik dari keyboard dan mouse komputer saya. Kalau hiburan hilang gara-gara TV dan tape yang tidak bisa menyala mungkin belum jadi masalah besar. Tidak bisa menyetrika baju juga belum jadi masalah, toh masih banyak persediaan baju rapi. Komputer tak bisa dipakai pun belum jadi masalah, berhubung tak ada tugas menunggu dimasa liburan. Baterai HP pun masih ok setidaknya buat 2 hari kedepan. Tapi karena pompa air –untuk menyedot air ledeng- yang jadi satu-satunya sumber air bersih tak bisa menyala, tentunya banyak kegiatan terganggu. Saat sore hari, hampir tidak ada air untuk mandi, cuci dan kakus, bahkan wudlu pun harus super irit. Sumur tetangga yang biasanya diandalkan kalau satu RT sedang ada masalah dengan air pun jadi tak punya daya karena toh masih butuh listrik juga untuk menyalakan jet pumpnya. Serba repot. Nasi yang sudah di tanak pagi hari pun sudah agak basi sebab magic jar nya kehilangan magic. Nasi baru pun tak bisa dimasak sebab rice cooker jelas tak bisa dipakai, sedang langseng (sunda;panci untuk menanak nasi) sudah lama dipensiunkan. Dan saat malam tiba, yang ada tinggal kalang kabut karena persediaan lilin ternyata habis. Jadilah yang ada pakai lampu minyak bekas dengan harapan minyak yang tinggal beberapa mililiter masih mampu bertahan menemani setidaknya sampai kantuk datang. Hualaah..serba repot. Ya alhamdulillah memang, akhirnya listrik menyala kembali pukul 8 malam dan semua berangsur normal.

Hanya berandai-andai, jika listrik tidak kembali menyala selama beberapa hari saja, apa yang kira-kira bakal terjadi? Untuk skala rumah tangga saja. Kehidupan tentu akan kembali setidaknya pada gaya hidup era 80’an di daerah pedesaan. Dan karena desa nenek saya dulu memang daerah terpencil yang tak tersentuh PLN, jadi setidaknya ada beberapa gambaran bagaimana kegiatan rumah tangga akan berjalan. Pertama masalah air, untuk daerah tanpa air ledeng atau terbiasa pakai pompa air dan tanpa pasokan mata air gunung, tukang air keliling tentu jadi pilihan pertama sebelum berganti ke olahraga bisep menggunakan pompa tangan cap Dragon, atau bahkan lebih keren lagi menggunakan timba atau bahasa sainsnya katrol. Lalu untuk memasak nasi, langseng pasti akan jadi pilihan favorit daripada bikin panci jadi gosong. Yang paling unik tentu untuk menyetrika pakaian, tanpa saingan setrika arang pasti akan populer lagi –ha..ha..ha …membayangkannya saja saya sudah tertawa terbahak-bahak-. Saat malam lampu templok pasti jadi pilihan dibandingkan lilin yang lebih berbahaya kalau ditinggal tidur. Dan pastinya akan ada wajah cemong-cemong hitam tersapu asap api buat mereka yang hobi membaca di dekat lampu templok –he..he.. pengalaman ya pin-. Tapi sisi positifnya berdasarkan pengalaman saya berkunjung ke beberapa desa terpencil ialah hubungan sosial antar manusia yang terbangun saat menunggu kantuk menjelang. Obrolan-obrolan ringan tentang kegiatan siang harinya, ngalor ngidul tentang kehidupan, keluh kesah, impian harapan, dan biasanya obrolan kalau tak berujung menjadi diskusi serius bertopik politik biasanya akan berujung pada topik-topik yang –maaf- saru. Huaalah….

Nah, tak terbayang jika di masa modern entah puluhan atau ratusan tahun mendatang, saat semua kegiatan di dunia sudah sangat mengandalkan tenaga listrik dan semua ‘resources’ yang dianggap kuno sudah masuk museum, lalu tiba-tiba terjadi krisis energi listrik. Bagaimana jadinya ya? (baca; gimana dapet air buat mandinya ya?)


-pemikiran-

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home