Mati Lampu (I)
Kemarin siang listrik mati seharian, sejak jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Dan berhubung saya sedang betah-betahnya di rumah sebelum berangkat ke KP ke Jakarta minggu depan –ma’lum biasanya jarang di rumah-, efek mati listrik (english;
Seperti umumnya rumah-rumah di perkotaan, listrik sudah menjadi ‘bahan bakar’ jalannya kegiatan rumah tangga. Mati listrik di rumah saya akan berarti tidak ada deru pompa air, tidak ada hingar bingar TV atau tape, tidak ada charger Hpyang berebutan mengisi steker listrik dan tentu saja tidak ada klotak-klotek klak-klik dari keyboard dan mouse komputer saya. Kalau hiburan hilang gara-gara TV dan tape yang tidak bisa menyala mungkin belum jadi masalah besar. Tidak bisa menyetrika baju juga belum jadi masalah, toh masih banyak persediaan baju rapi. Komputer tak bisa dipakai pun belum jadi masalah, berhubung tak ada tugas menunggu dimasa liburan. Baterai HP pun masih ok setidaknya buat 2 hari kedepan. Tapi karena pompa air –untuk menyedot air ledeng- yang jadi satu-satunya sumber air bersih tak bisa menyala, tentunya banyak kegiatan terganggu. Saat sore hari, hampir tidak ada air untuk mandi, cuci dan kakus, bahkan wudlu pun harus super irit. Sumur tetangga yang biasanya diandalkan kalau satu RT sedang ada masalah dengan air pun jadi tak punya daya karena toh masih butuh listrik juga untuk menyalakan jet pumpnya. Serba repot. Nasi yang sudah di tanak pagi hari pun sudah agak basi sebab magic jar nya kehilangan magic. Nasi baru pun tak bisa dimasak sebab rice cooker jelas tak bisa dipakai, sedang langseng (sunda;panci untuk menanak nasi) sudah lama dipensiunkan. Dan saat malam tiba, yang ada tinggal kalang kabut karena persediaan lilin ternyata habis. Jadilah yang ada pakai lampu minyak bekas dengan harapan minyak yang tinggal beberapa mililiter masih mampu bertahan menemani setidaknya sampai kantuk datang. Hualaah..serba repot. Ya alhamdulillah memang, akhirnya listrik menyala kembali pukul 8 malam dan semua berangsur normal.
Nah, tak terbayang jika di masa modern entah puluhan atau ratusan tahun mendatang, saat semua kegiatan di dunia sudah sangat mengandalkan tenaga listrik dan semua ‘resources’ yang dianggap kuno sudah masuk museum, lalu tiba-tiba terjadi krisis energi listrik. Bagaimana jadinya ya? (baca; gimana dapet air buat mandinya ya?)
-pemikiran-

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home