Menerima Seutuhnya (I)
“Dari dulu gue kan dah kayak gini.” “Ah, gue kan gak bisa kaya gitu.”
Familiar dengan frase-frase tadi? Kalimat-kalimat yang biasa saya dengar di percakapan sehari-hari atau bahkan di pikiran saya sendiri. Kalimat seperti ini biasanya muncul saat saya butuh “pemakluman” diri atas ketidakmampuan saya melakukan atau mencapai sesuatu. Kurang lebih mungkin sebagai kompensasi penghibur diri ..he he .
Dibalik kalimat ini ada sekelumit makna akan penerimaan konsep diri. Penerimaan akan kekurangan yang ada pada diri kita. Baik itu kekurangan berupa fisik ataupun sifat yang diperoleh secara genetik ataupun hasil proses selama menjalani kehidupan.
Trus masalahnya apa pin? Menerima kekurangan diri kan sudah bagus toh?
Seperti Yin dan Yang, saat ada kekurangan tentu ada kelebihan pula toh?
Menerima diri seutuhnya akan jadi lebih adil kalau diartikan tak hanya menerima kekurangan tetapi juga menerima kelebihan yang ada. Menerima kekurangan diri dalam konteks ini berarti menerima keterbatasan, ketidakmampuan melakukan beberapa hal, termasuk mempersiapkan diri mengikhlaskan kegagalan-kegagalan yang mungkin menghadang. Sedang menerima kelebihan diri bakal jadi lebih berarti saat kita sadar akan potensi kita untuk jadi lebih “baik”, sekaligus membuka cakrawala yang luas akan segala kemungkinan yang dapat kita capai.
Nah, sepertinya bakal lebih asyik lagi kalau suatu hari nanti saya akan dapat mengatakan pada diri sendiri “Mungkin gue gak bisa kaya gitu, tapi gue kan bisa kaya gini he he he..” atau mungkin “Hari ini gue emang gak bisa kaya gitu, tunggu seminggu lagi deh. Kayanya gue bakalan bisa”…
Someday, I guess. I’m still learning to living this life..
-to be continued-

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home