Menulis dan Belajar Menulis
Sebetulnya sudah sangat lama sejak terakhir kali menulis sebuah tulisan. Tulisan-tulisan terakhir tergolong serius dengan topik kemahasiswaan kampus. Entah dua atau tiga tahun yang lalu mungkin.Dan menulis di detik ini, saat ini, seperti belajar naik sepeda lagi. Mencoba memindahkan dialog-dialog pikiran menjadi text huruf. Kadang mengalir deras, lalu mundur perlahan –tip-ex, backspace- mengganti diksi dan kalimat yang rancu atau tak nyaman didengar dan tak merdu dilanggamkan. Tak jarang pula kedua tangan kewalahan menghadapi laju pikiran yang serupa laju cahaya. Flasssssshhh!!! Sesekali berhenti, mencerna, menunggu dialog pikiran yang tiba-tiba diam terpaku.
Menulis dan pada saat yang bersamaan belajar menulis. Dua aktivitas yang tak terpisahkan. Karena pada saat kita belajar menulis, pada saat itu pula kita sedang melakukan aktivitas menulis. Dan saat kita menulis, secara tak sadar pula kita belajar memperbaiki tulisan kita, pola penulisan, diksi, kosakata etc. Keduanya mengalir bersamaan, satu padu.
Yang agak lucu mungkin proses pembelajarannya sendiri tak selalu dilalui dengan sebuah kesadaran. Tak jarang tiba-tiba kita tertegun saat menyadari setelah satu atau dua tahun menulis surat cinta, tiba-tiba kita telah menulis sebuah novel cinta.
Kesadaran akan pembelajaran melalui sebuah proses……… berfikir.
"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir."
Q.S Al Jaatsiyah (45:13)
Berlakukah proses ini pada dogma “menjalani hidup dan belajar hidup” ? Wallahualam
-Nostalgia bacaan tingkat II, Andreas Harefa; “Menjadi Manusia Pembelajar”-

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home